Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan

Surat Dari Gaza “Tidak Ada Teroris di Gaza”

Written By tonitok on Selasa | 08:14


Oleh: Sunaryo Adhiatmoko (GAZA)

Ini hari ketujuh, saya berbaur dengan warga korban agresi Israel di Gaza, (2 Februari 2009). Satu hari saya di Rafah, enam hari sampai sekarang saya bertahan di Jabalia Gaza Utara.

Saya melihat Gaza masih utuh, yakni semangat juang rakyat dan cara bertahannya. Gaza masih kukuh, meski blokade Israel makin menggila.

Meski spirit warga Gaza terus membara, secara fisik Gaza porak poranda. Permukiman penduduk, sekolah, masjid, dan pusat pemerintahan hancur total. Kerusakan ter hebat dialami di Rafah, Khanyounis, Bayt Lahia, Bayt Hanun, dan Jabalia.

Tetapi roda pemerintahan berderak tak terbendung. Pemerintahan resmi Hamas, tetap menjalankan perannya dengan baik. Tanpa kantor, aparat kepolisian dan keamanan tetap beroperasi. Di Rafah misalnya, meski kantor polisi dihancurkan rudal dan bom Israel, mereka tetap berkantor di jalanan dengan absensi selembar kertas. Bahkan mereka sempat menangkap lima orang pengedar narkotika dari Mesir dan Israel.

Gaza City, ibukota Gaza, oase lain di tengah reruntuhan bangunan dan gedung di Gaza. Pusat kota Gaza ini masih utuh. Gedung-gedung yang punya konstruksi bangunan ter kokoh di Arab -mungkin - masih angkuh menatap lepas laut Mediterranean. Bank dan fasilitas publik lainnya masih berjalan baik. Kemacetan lalulintas juga pandangan hari-hari, seakan mengatakan “Kami masih utuh wahai Israel!”.

Biaya hidup di Gaza tinggi. Nilai $ US 1 sama dengan 3,8 Shekel - mata uang Israel. Transaksi hari-hari rakyat Palestina memakai mata uang Israel. Hotel dengan tarif terendah mencapai $ US 100. Pasca perang, biaya hidup di Gaza naik lebih dari 300 persen.

Setelah tanggal 5 Februari nanti, pintu perbatasan Rafah melalui Mesir akan ditutup. Saya dan orang asing lainnya, diminta Kementerian Luar Negeri Mesir, untuk keluar Gaza sebelum tanggal 5.

Ini seperti mimpi buruk. Selanjutnya, perbatasan yang akan dibuka melalui Israel di Karem Abu Salom dan El Auda. Saya membayangkan, jika pintu masuk Gaza melalui Israel, sama halnya dengan mengisolasi total warga Gaza dari dunia luar. Hati saya terus bertanya, mungkinkah suplai kebutuhan hidup melalui terowongan di Rafah mampu menghidupi 2,5 juta lebih penduduk Gaza? Pun, juga heran, bagaimana mungkin pasca gempuran yang demikian hebat, semua jenis kendaraan di Gaza masih beroperasi secara baik. Dari mana suplai bahan bakarnya? Makin memahami kehidupan Gaza rasanya rumit dan tak masuk akal.

Rasanya adil, jika akhirnya Hamas memproklamirkan kemenangannya. Karena Gaza bisa berdenyut lebih cepat dan makin kuat. Bahkan Hamas juga masih mampu melempar roket ke Israel, tiap kali Israel memancing keruh dengan melempar rudal nya ke Rafah, Khanyounis, dan Jabalia. Dalam catatan saya, Hamas hampir tak pernah melempar roket lebih dulu. Biasanya, jika Israel melempar rudal lebih dulu, Hamas baru membalasnya dengan dua sampai tiga roket. Mereka juga ingin menjelaskan, bahwa Hamas masih kokoh sebagai kekuatan militer di Gaza.

Di Gaza, saya berpetualang menjumpai para korban agresi Israel. Saya merekam cukup baik apa suara mereka. Dari anak-anak sampai orang tua. Dalam catatan saya, delapan dari sepuluh anak laki-laki di Gaza bercita-cita jadi anggota Brigadir Al-Qosam. Sisanya ingin jadi guru dan pekerja sosial. Sedangkan tujuh dari sepuluh anak perempuan di Gaza, ingin jadi dokter.

Mereka ingin mengobati para mujahidin yang terluka, jika Israel menyerang tanah mereka. Dari setiap anak yang saya ajak berbincang, mereka punya suara kejujuran yang tulus tentang perdamaian. “Kami mencintai perdamaian dengan siapa pun. Tetapi jika tanah kami dijajah dan orang tua kami dibunuh, kami akan melawan dengan maupun tanpa Hamas”, kata Fatimah Atlas (13), di reruntuhan puing bekas rumahnya, Bait Lahia. Murid kelas dua Madrasah itu, ayahnya lumpuh oleh senjata Israel. Dia terkurung tujuh hari di sekolahnya, saat Israel menyerang. Ada 10 temannya yang syahid di sekolah, saat itu terkena ledakan bom.

Untuk menghemat biaya hidup, saya tinggal di rumah-rumah penduduk. Mereka sangat cinta orang Indonesia. Di sepanjang jalan saya lewati, setiap mulut berucap, “Ahlan wa sahlan Indonesia!” . Di masjid-masjid tempat saya shalat, para jamaah selalu mengerumuni saya. Nafas rasanya sesak, karena seringnya dipeluk. Para imam masjid saling berebut ingin menjamu saya dan menginap di rumahnya.

Keluarga di Gaza hidup dalam kesahajaan. Tetapi untuk menjamu tamu, mereka rela mengorbankan makanan terbaiknya. Kadang, saya belanja roti di warung pinggir jalan, tapi karena tahu saya orang Indonesia, mereka tidak mau menerima uang saya. Bahkan saya diajak masuk rumah mereka dan dijamu makan. Ingin menolak, tapi postur tubuh mereka yang tinggi, membuat saya tak berdaya mengelak. Lengan saya yang kecil ditarik paksa masuk rumah.

Teman-teman saya di Jakarta tahu, saya tidak doyan roti. Tapi di Gaza dengan lidah dan mulut yang terus berontak, saya paksakan untuk menelan roti itu. Ironisnya, porsi yang mereka suguhkan sama dengan porsi yang mereka makan. Repot tapi mengharukan.

Tidak hanya merekam kehidupan anak-anak dan keluarga di Gaza. Saya juga dijamu Brigadier Al-Qosam, sayap militer Hamas yang kerap membuat Israel kerepotan dan stres. Suatu malam, saya diajak patroli mengunjungi markas dan tempat penjagaan mereka di perbatasan Gaza - Israel di daerah Jabaliah. Jarak ke Israel tak kurang dari 1 km.

Mereka menyambut kami ramah. Muka mereka ditutup sarung kepala hitam, hanya tampak mulut dan matanya. Setiap prajurit menenteng senjata AK 47. Beberapa di antaranya memegang roket anti tank buatan Rusia. Sebagian roket modifikasi buatan sendiri yang diberi nama Yasin. Menukil nama almarhum Syekh Ahmad Yasin yang dibunuh Israel.

Satu malam saya bersama mereka. Jalan kaki memutari perbatasan Jabaliah. Bau badan mereka harum, nafas yang mereka keluarkan tiap bercakap juga harum. Tidak saya temui, nafas prajurit al-Qosam bau jengkol. Telapak tangannya kekar dan kuat. Suaranya lembut dan santun. Saya tidak dapat mengenali siapa mereka. Tapi, beberapa di antaranya sepertinya saya tidak asing. Pernah berjumpa pada siang sebelumnya.

Saya mencoba mengingat siapa yang saya salami malam itu. Esok hari saya berjumpa anak-anak muda yang berpakaian rapi di masjid-masjid. Beberapa saya merasakan seperti sebagian dari orang yang saya jumpai semalam. Benar saja, sebagian mereka mengaku. Melihat gelagat nya, sulit menebak jika anak-anak muda yang gagah, rapi, santun, dan kalem ini adalah pejuang Al-Qosam yang garang di medan laga.

Tak lupa, mereka juga mengajak saya ke rumah para mujahidin yang luka. Mereka ada yang terluka di kepala, hancur tangan, kaki, dan tubuh yang tidak utuh. Ajaib nya, luka-luka mereka cepat sekali pulih. Menurut seorang dokter di Gaza, suhu dingin di Gaza bagian dari sebab kenapa luka-luka itu cepat sembuh. Seorang mujahidin ada yang empat kali terjun ke medan tempur, dan empat kali juga tubuhnya terluka. Tapi tidak ciut, dia ingin menjadi mujahidin sampai syahid menjemput.

Saat ini di Indonesia, banyak foto-foto calon legislatif dan calon presiden. Tapi di Gaza tak kalah banyak foto-foto terpampang di jalan-jalan dan gang-gang. Tapi bukan foto caleg. Foto-foto yang dipajang di Gaza adalah foto-foto para mujahidin yang syahid. Mereka menjadi idola dan bintang bagi masyarakat Palestina umumnya. Mereka para syahid yang dihormati, karena membela tanah Gaza secuil yang ingin direbut Israel.

Di Gaza, saya merasakan hukum al-Quran diamalkan. Ini tercermin dari tingkah laku dan kehidupan masyarakat Gaza. Masjid-masjid penuh tiap shalat lima waktu. Rasanya saya ingin tinggal lama di tanah para mujahidin ini. Tapi, saya harus kembali membawa kabar pada dunia, bahwa tidak ada teroris di Palestina. Semua warga Gaza mencintai Hamas. Ia, pemerintahan dan kekuatan militer yang syah di Palestina. Hamas memenangi pemilu secara demokratis. Dan Hamas dicintai secara total oleh rakyat. Anak-anak di Gaza dan Palestina kini makin membumi, mencintai perlawanan dan selalu mengidolakan para mujahidin yang syahid.

Ini, catatan hari ke-7 saya di Gaza. Sebelum akhirnya saya meninggalkan tanah Mujahidin itu pada 5 Februari 2009, atas permintaan Mesir. Setelah itu, pintu masuk Gaza melalui Rafah ditutup.

Sumber:
http://noorahmat.multiply.com/journal/item/75/75


Demi Kemanusiaan, TIFATUL : SAYA SIAP DIPENJARA

Written By tonitok on Senin | 22:56

Jakarta, Polda Metro Jaya hari ini Kamis (15/1) memanggil Presiden PKS, Tifatul SEMBIRING, Ketua DPW PKS DKI, Triwisaksana dan Agus Setiawan sebagai tersangka terkait dengan aduan Panwaslu. Ketiganya dijerat pasal 269 UU No.10 tahun 2008. Menurut Panwaslu PKS disinyalir melakukan kampanye terselubung saat melakukan demo Aksi Solidaritas Palestina Jumat (2/1) yang dihadiri oleh 200 ribu-an massa.

Tifatul merasa belum pernah diklarifikasi Panwaslu tentang tuduhan tersebut. Oleh sebab itu PKS akan mengajukan nota protes ke Panwaslu. “Belum ada omongan apa-apa, baik teguran lisan maupun tulisan kok ujug-ujug saya jadi tersangka, ada apa ini dengan Panwaslu?” Tanya Tifatul.

Lebih lanjut Tifatul menegaskan, “Ini bukan kampanye. Ini adalah aksi kemanusiaan yang juga dilakukan di Negara-negara lain seperti Inggris, Spanyol, Australia, Amerika, Yunani dan Negara lain.”Pada aksi lalu spanduk yang diusung PKS antara lain bertuliskan “Save Palestine”, “Zionism Destroys Humanity, Act Now”, dan “One Man One Dollar to Save Palestine”. Dalam aksi itu tidak ada satupun spanduk yang berisi tulisan terkait dengan kampanye partai.

Rakyat Palestina berhak atas kedaulatan dan kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam amanat pembukaan UUD 1945. “Aksi kita ini dilandasi dengan semangat menjalankan UUD, bukan kita mau menyampaikan visi misi luar negeri PKS seperti yang dituduhkan Panwaslu”, sangkal Tifatul.

Kalau maslah bendera PKS dipermaslahkan, Tifatul menegaskan bahwa aksi demo itu harus jelas siapa yang melakukannya. “Karena ini kan identitas, semua kelompok yang berdemo juga biasanya bawa identitas, baik itu ormas maupun mahasiswa. Karena yang demo PKS ya wajar dong kita bawa bendera partai!” tegasnya. Identitas ataupun bendera selain berfungsi sebagai tanda juga memudahkan polisi melakukan identifikasi jika dalam aksi tersebut terjadi kekacauan.

Ketika ditanya tentang kesiapan menghadapi ancaman hukuman atas dirinya, dengan tegas Tifatul menjawab, “Kalau saya harus dihukum karena aksi solidaritas untuk rakyat Palestina yang menderita, demi kemanusiaan saya siap dipenjara!”

CP: A.Mabruri MA (Humas PKS), mobile : 0818905516

Sumber : Siaran Pers Resmi DPP PK Sejahtera (15/01/09)

PKS Dapat Mendulang Simpati Masyarakat


Demonstrasi kemanusiaan yang mengerahkan puluhan ribu kader Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) itu berujung pada penetapan status Tifatul Sembiring sebagai tersangka. Tifatul dituduh melakukan pelanggaran tindak pidana pemilu dan melanggar peraturan kampanye yang ditetapkan KPU.



JAKARTA – PKS dapat mendulang simpati publik setelah polisi menetapkan Presiden PKS Tifatul sebagai tersangka. Apalagi isu yang diusung partai ini adalah isu kemanusiaan, yakni kejinya agresi Israel terhadap Palestina.

Demikian kesimpulan wawancara Koran Jakarta dengan analis politik dari Charta Politika, Burhanudin Muhtadi, dan pengamat politik dari Unversitas Paramadina Bima Arya.

Kedua pengamat politik itu menanggapi penetapan Tifatul Sembiring sebagai tersangka kasus pelanggaran kampanye. “Tidak dapat dimungkiri, isu Palestina menjadi perhatian serius masyarakat Indonesia. Publik akan banyak bersimpati pada Tifatul. Masyarakat lebih concern pada penindasan Israel di Palestina daripada pelanggaran pemilu yang dilakukan PKS,” kata Burhanudin Muhtadi.

Polisi telah menetapkan Tifatul sebagai tersangka karena memimpin demonstrasi massa PKS. Demo yang memakai atribut partai tersebut dilaporkan oleh Panwaslu DKI Jakarta sebagai kampanye terselubung.

Selain Tifatul, dua orang terlapor lainnya, yaitu Ketua DPW PKS DKI Jakarta dan Ketua DPD Jakarta Pusat M Agus, telah ditetapkan sebagai tersangka. Hari ini, Kamis (15/1) ketiga petinggi PKS itu diperiksa.

Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah menilai demo PKS melanggar Undang-Undang tentang Pemilu. Selain itu, PKS melanggar aturan kampanye.

“Jika PKS bisa mengeksploitasi isu ini dengan baik yang mengesankan Tifatul dan PKS sebagai partai tertindas, PKS diuntungkan berlipat ganda,” papar Burhanudin.

Burhanudin menyebut kondisi demikian dengan istilah the power of powerless. PKS dapat mencari celah keuntungan di tengah ketidakberuntungan dengan status tersangka Tifatul. “Kalau berhasil, PKS dapat meraih simpati public yang luar biasa,” tegas Burhanudin.

Keyakinan Burhan itu bukan tanpa alasan. Perhatian publik atas kasus pelanggaran kampanye PKS disandingkan dengan agresi Israel ke Palestina, tidak berbanding lurus. Publik jauh lebih peduli terhadap isu Palestina.

“Hal ini bukan berarti meniadakan implikasi hukum atas PKS. Namun, potensi untuk mengeruk keuntungan status Tifatul dan PKS saat ini sangat terbuka lebar,” ujar Burhanudin.

Makin Tinggi

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya mengatakan isu Palestina saat ini menjadi isu yang efektif untuk dipolitisasi karena banyak yang bersimpati dengan isu tersebut. Status tersangka para petinggi PKS itu bisa memiliki dua efek. Bagi orang-orang yang tidak suka dengan PKS, kasus ini akan digiring dan dipolitisasi.

“Mereka akan mengatakan PKS telah memolitisasi isu agama, PKS tidak fair atau PKS licik. Jadi isu itu memang isu yang sebenarnya agak tidak enak,” kata Bima.

Namun sebaliknya, perseteruan PKS dengan Panwaslu itu juga bisa membuat suara PKS malah akan tinggi. PKS diprediksi akan mendulang untung ditengah perseteruan dengan Panwaslu ini. Kalangan muslim yang pro-Palestina akan menguatkan simpatinya pada PKS karena dianggap pasang badan terhadap isu kemanusiaan.

Bingung

Presiden PKS Tifatul Sembiring menyatakan kebingungannya atas penilaian Panwaslu itu. Aksi damai menentang agresi militer Israel ke Palestina dianggap sebagai bagian dari kampanye. Padahal, dalam aksi 2 Januari 2009 lalu, tidak ada ajakan untuk memilih partai.

“Yang kita lakukan adalah aksi kemanusiaan. Ini kita lakukan karena kita lihat ada 900 korban meninggal warga sipil Palestina dan ribuan korban yang terluka,” kata Tifatul.

Lebih lanjut, ia menyatakan aksi tersebut merupakan pengejawantahan dari hak berekspresi yang tercantum dalam Pasal 27 UUD 1945. Terlebih, sebelum aksi dilakukan, partai sudah meminta izin dari pihak kepolisian untuk menggelar aksi.

Penggunaan simbol partai, menurutnya, untuk menunjukkan identitas pihak yang menggelar aksi. Ia memandang tindakan tersebut sebagai demo yang bertanggung jawab dari PKS.


Sumber: Koran Jakarta 150109 Hal-3

Aksi Solidaritas untuk Palestina

Aksi Solidaritas untuk Palestina yang diadakan kembali Ahad (12/01) dihadiri sekitar 350.000 orang. Massa berkumpul di pelataran monas sebelum melakukan long march ke bundaran HI. Hadir Ketua MPR RI, perwakilan ummat Budha, perwakilan PGI dan beberapa ormas. Aksi ini menuntut segera diakhirinya pendudukan Israel terhadap Palestina

Aksi teatrikal. Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menerobos camp Israel.


Tampak Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan mantan Wakapolri Adang Daradjatun di barisan depan aksi solidaritas.


Aksi Solidaritas untuk Palestina diikuti sekitar 350.000 orang



Pengirim: mdw Update: 12/01/2009 Oleh: mdw
http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=6677

Warga Palestina Sampaikan Salam dan Terima Kasih Kepada Rakyat Indonesia


"Salam dari warga Palestina kepada rakyat, pemerintah, pers Indonesia atas dukungan yang Rata Penuhdiberikan dengan menolak terorisme zionis Israel," kata Hidayat.

PK-Sejahtera Online: Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid yang berangkat ke Qatar Kamis(1/1) malam, tiba kembali di tanah air, Kamis (8/1). Wakil Ketua Al-Quds International Foundation itu bersama delegasi ulama dan tokoh Islam internasional melobi sejumlah pimpinan negara Arab di sekitar Palestina guna membantu mencari solusi terbaik untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza akibat gempuran mesin perang Israel.

Selain bertemu dengan sejumlah pimpinan negara Arab, delegasi yang dipimpin oleh Prof. DR. Yusuf Qaradhawi itu juga bertemu dengan tokoh-tokoh pejuang Palestina di Syiria. "Salam dari warga Palestina kepada rakyat, pemerintah, pers Indonesia atas dukungan yang diberikan dengan menolak terorisme zionis Israel," kata Hidayat, Jum'at(9/1) di Gedung MPR/DPR, Jakarta.

Kepada warga Palestina, Hidayat menyampaikan, pemerintah dan bangsa Indonesia turut mendukung apa yang dilakukan warga Palestina dalam mempertahankan negaranya dan memperjuangkan kemerdekaannya atas Israel.

"Saya juga menyampaikan kepada mereka bahwa yang melakukan dukungan bukan hanya dari kelompok Islam saja, kelompok nasional, umat Kristiani juga melakukan penyikapan atas apa yang terjadi di Gaza, Palestina," ujar Hidayat.

Dalam konferensi pers itu, Hidayat yang mantan Presiden PKS melaporkan pertemuannya dengan sejumlah pimpinan negara arab. "Alhamdulillah kami bisa bertemu dengan Amir Qatar Syeikh Hamd Khalifah Ali Tsani pada hari Sabtu, Raja Arab Saudi King Abdullah (Ahad), Presiden Syria Bashar Assad(Senin), Raja Abdullah ke II Yordania (Selasa), dan Presiden Turki Abdullah Gul (Rabu). Kami juga mengirim berita kawat kepada Sekjend Liga Arab Dr Amru Musa dan Sekjen OKI Prof Ekmeluddin Ihsanoglu," papar Hidayat.

Pada hari ketiga, delegasi bertemu dengan pimpinan empat kelompok Palestina, Faksi Hamas, Faksi Jihad, Faksi Nasional dan Kemasyarakatan, dan Faksi Fatah. Ketika di Jordania delegasi mengunjungi korban agresi Israel di Rumah Sakit Elia..

Kepada pimpinan negara Arab, delegasi menyampaikan harapan ummat yang juga warga dunia agar mereka membantu dan mendukung perjuangan warga Palestina dengan melakukan tekanan efektif untuk hentikan agresi Israel dan membuka pintu perbatasan di Rafah. Delegasi juga mendesakan agar segera diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi Liga Arab dan OKI. Dari seluruh negara Arab yang dikunjungi delegasi, hanya Presiden Mesir Husni Mubarak yang belum bisa menerima. Alasannya, waktu yang belum sesuai.

Delegasi menyampaikan secara langsung dan terbuka apa yang menjadi harapan ummat Islam sebagai warga dunia kepada negara-negara Arab agar membuka perbatasan mereka agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan.

Lepas Relawan

Usai shalat Jumat di Masjid Al-Azhar, Hidayat melepas empat relawan kemanusiaan yang akan berangkat ke Gaza membawa bantuan dari rakyat Indonesia. Sebelumnya Hidayat berkesempatan memberikan khutbah Jumat di masjid yang sama. Khutbah dan kegiatan hari itu juga menjadi bagian dari realisasi seruan Prof DR Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Delegasi Persatuan Ulama Islam Internasional untuk menjadikan hari Jumat ini hari kemarahan internasional atas Holocaust teroris Israel dan solidaritas bagi bangsa Palestina di Gaza.


Nama-nama delegasi ulama dan tokoh Islam internasional, yang ikut dalam pertemuan dengan pimpinan negara Arab.

1. Prof DR Yusuf Al Qaradhawi (Ketua Delegasi dan Ketua Forum Ulama Islam Internasional)
2. Jenderal Purn Abd Rahman Siwar Adz Dzahab (Mantan Presiden Sudan)
3. Prof DR Abdullah Umar Nashif (Mantan Wakil Ketua MPR Saudi Arabia dan Sekjend Liga Muslim Dunia)
4. Prof DR Nashii Farid Washil (Mantan Mufti Mesir)
5. DR M Hidayat Nur Wahid, MA(Wakil Ketua Al Quds International Foundation)
6. DR Ishom Al Bashir (Mantan Menteri Agama dan Wakaf Sudan)
7. DR Ishaq Farhan(mantan Menteri Pendidikan dan Agama Yordania)
8. DR Khalid Al Madzkur (Ketua Penerapan Syariah di Kuwait)
9. DR Abdur Rahman Al Mahmud (Wakil Menteri Urusan Hukum dan Agama di Kuwait)
10. DR Salman Al Audah (Ulama Terkemuka di Saudi Arabia)
11. DR Ahmad Ar Raisuni(Ahli Fiqih dari Maroko)
12. Prof DR Al Qurroh Daaghi (Ahli Ekonomi Islam dari Qatar University)
13. Prof DR Abdul Wahab Ad Dailami (Wakil Rektor Universitas Al Iman Yaman


Pengirim: Ningsih Update: 10/01/2009 Oleh: Ningsih
http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=6666

HNW : Meski Nan Jauh Di Sana, Kami Peduli

“Meski kami jauh, tidak paham bahasa dan berbeda latar belakang budaya, tidak akan sedikit pun bergeser tekad kami untuk membantu rakyat Palestina,”ungkapnya lantang.

PK-Sejahtera Online: Meski terpaut jarak yang teramat jauh antara Indonesia dan Palestina, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah rakyat Indonesia untuk peduli terhadap permasalahan yang terjadi di Jalur Gaza. Demikian disampaikan Ketua MPR RI DR.H.M. Hidayat Nurwahid pada aksi Solidaritas Untuk Palestina, (11/1), di lapangan Monas Jakarta.

Karenanya, berbagai komponen bangsa Indonesia bersatu mengelar aksi kemanusiaan dan menghimpun dana untuk misi kemanusiaan di Palestina.

“Meski kami jauh, tidak paham bahasa dan berbeda latar belakang budaya, tidak akan sedikit pun bergeser tekad kami untuk membantu rakyat Palestina,”ungkapnya lantang.

Lebih lanjut Hidayat mengatakan, kepedulian bangsa Indonesia yang memiliki letak geografis yang jauh dari Gaza, harusnya menggugah negara-negara Arab yang letaknya lebih dekat untuk mau lebih peduli terhadap permasalahan yang terjadi di Palestina. Karenanya ia mendesak Presiden Mesir Husni Mubarak untuk membuka lebih banyak pintu-pintu yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza.

”Agar bantuan kemanusian dari masyarakat di seluruh dunia dapat lebih mudah masuk ke Palestina,” ujarnya.

Ia juga mendesak liga Arab menyatukan sikap untuk membawa Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan perang yang dilakukannya..

Pada kesempatan itu, Hidayat yang baru saja menyelesaikan lawatannya ke negara-negara Timur Tengah, menyampaikan salam dari pemerintah dan rakyat Palestina untuk masyarakat Indonesia atas dukungan moral melalui demonstrasi menentang kebiadaban Israel dan bantuan kemanusia yang telah diterima oleh warga Palestina.

Hidayat juga berterima kasih kepada Presiden RI Susilo Bambang Yodhoyono yang telah dengan tegas menyatakan sikap pemerintah Indonesia menentang agresi militer Israel di Palestina. (adine)



Pengirim: Ningsih Update: 12/01/2009 Oleh: Ningsih
http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=6675

Tokoh Lintas Agama Galang Kepedulian Untuk Palestina

Dengan mengenakan pakaian biksu berwana kuning keemasan, Mawa Wirya mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi pelopor kemerdekaan di Palestina.

PK-Sejahtera Online: Tragedi berdarah di Palestina tidaklah menjadi “PR” kaum mulisimin saja, tapi telah menjadi masalah bersama yang harus segera diupayakan penyelesaiannya. Oleh karena itu, PKS menggandeng para tokoh lintas agama untuk memberikan kepeduliannya kepada rakyat Palestina yang menjadi korban aksi kekejaman Israel..

Pada aksi Solidaritas yang digelar di lapangan Monas (11/1), tampak hadir Perwakilan Etnis Thionghoa, Ketua Pemuda Kristiani Indonesia Samuel Lengkong dan Rohaniawan Budha Mawa Wirya. Para pemuka agama tersebut, masing-masing hadir dengan membawa sejumlah massa. .

Dengan mengenakan pakaian biksu berwana kuning keemasan, Mawa Wirya mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi pelopor kemerdekaan di Palestina. Ia juga menegaskan bahwa perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Sementara itu Samuel Lengkong menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan tidak hanya menjadi masalah satu agama saja, tapi menjadi tanggung jawab seluruh agama. “Apapun agamanya, mari bersatu membantu Palestina,”pintanya.

Adapun tokoh PKS yang hadir pada acara tersebut adalah Anggota Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid, Ketua DPW PKS DKI Jakarta Ir.Triwisaksana M.Sc, Mantan cagub DKI Jakarta Adang Darajadtun dan para anggota FPKS DPR RI Jakarta. (adine)


Pengirim: Ningsih Update: 12/01/2009 Oleh: Ningsih
http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=6674
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS BANJARSARI GAJAH DEMAK - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger